Showing posts with label xena. Show all posts
Showing posts with label xena. Show all posts

Monday, September 30, 2013

Berputar di Hongdae, Pusat Gejolak Anak Muda


“So, Sohyun, you have an older sister. What is her occupation?” tanyaku.
“Emm.. she is a kindergarten teacher,” kata Sohyun sambil tersenyum.
Rany langsung memandangku dengan tatapan aneh.
“Xen, kamu udah nanya pertanyaan itu lho pas ketemu Sohyun pertama kali.” Dan entah harus ditaruh mana muka ini.

                  Hari indah dan cerah lainnya di Seoul. Hari ini kami rencanakan menghabiskan waktu bersama Sohyun. Setelah mengganti-ganti jadwal, kami temukan waktu pas untuk hang out bareng Sohyun, teman Korea kenalan kami, ya hari keempat ini. Seoul yang cerah tampaknya mendukung suasana hati kami yang juga cerah. Kami janji bertemu Sohyun di Hongdae exit 9 pukul 11.00 siang. Maksud hati sekalian makan siang bersama. Sohyun memang berjanji membawa aku dan Rany mengitari Hongdae. Ia ingin mengenalkan tempat-tempat terkenal di Hongdae dan tempat nongkrong anak-anak muda di Hongdae. Sekali lagi mungkin bagi yang belum mengerti, Hongdae adalah singkatan dari Hongik Daehakyo dimana bahasa Indonesianya adalah Universitas Hongik. Daerah ini memang terkenal dengan youth spiritnya.
                  Aku dan Rany dapat mencapai Hongdae exit 9 dengan cukup mudah karena kami hanya perlu berjalan dari exit 2 lalu mencari tempat keluar exit 9. Di exit 9 ini pula tempatnya Universitas Hongik berada. Kami duduk di sebuah tempat duduk karena hingga pukul 11.00 lewat, kami belum melihat batang hidung Sohyun. Parahnya, kami juga tidak bisa mengontak dirinya karena tidak ada wifi yang bisa tersambung dengan blackberry kami. Orang banyak sudah lalu lalang, matahari pun mulai meninggi. Kenapa Sohyun tidak sampai-sampai ya? Apa kita yang salah tempat janjian? Oh ya, selama kami menunggu, kami juga melihat pegawai MBC, salah satu stasiun televisi di Korea Selatan yang melakukan demo. Mereka membawa beberapa spanduk besar dan meminta bantuan masyarakat yang lewat untuk menandatangani semacam petisi. Dengar-dengar kasusnya sih karena bos mereka membawa kabur sejumlah uang. Mungkin karena itu pula beberapa waktu lalu variety show Korea besutan MBC sempat berhenti proses produksinya seperti We Got Married (WGM).
                  Ketika khawatir kami terus bertambah, tiba-tiba seorang gadis dari kejauhan menghampiri kami. Ternyata benar Sohyun! Kami sangat lega karena bisa bertemu dengannya lagi. Sohyun juga berterimakasih karena keluarganya senang dengan oleh-oleh yang kami bawa dari Surabaya. Setelah berbasa basi sebentar, dimulailah petualangan kami bertiga mengitari area Hongdae. Sohyun selaku tour guide menjelaskan beberapa hal tentang dirinya, teman-temannya, serta kampusnya. Kami masuk ke salah satu bangunan dimana restoran tempat kami makan siang ternyata berada di lantai 2 dan lantai satunya adalah butik baju. Sohyun menambahkan, “I often go to this restaurant, either with my friends or with my boyfriend.” Siang itu, kami menikmati naengmyeon untuk makan siang kami di restoran Yukssam Naengmyeon. Naengmyeon sendiri adalah mie dingin khas Korea Selatan. Setiap orang mendapat satu porsi besar mangkok berisi mie dengan kuah dinginnya. Ada beberapa es batu kecil di dalam kuah dimana es tersebut membantu menyegarkan rasa naengmyeon itu sendiri. Sebelum menikmati naengmyeon, kita harus menggunting-gunting dulu mienya karena sangat susah untuk menyantap mienya dengan sumpit bila masih menggumpal. Namun, hal ini tampaknya menjadi opsi karena bisa saja kita langsung memakannya tanpa mengguntingnya.
“Sohyun, why they don’t give us spoon?” aku bertanya.
“Because we have to lift up the bowl to drink the soup,” katanya sambil tersenyum.
                  Awalnya sih terasa aneh karena di Indonesia, biasanya kita selalu menggunakan sendok untuk makan makanan yang berkuah, Tapi kali ini, kita harus meminumnya langsung dari mangkok. Kami menikmati naengmyeon yang ternyata super lezat itu. Sejak menikmati Yukssam Naengmyeon dan pulang dari Korea Selatan, Rany tampaknya ketagihan makan naengmyeon. Satu hal lagi, air mineral di Korea Selatan, rata-rata memang semuanya gratis. Kita semua dapat mengambil sendiri gelas yang telah disediakan dan mengambil air mineral sepuasnya (andai saja hal yang sama berlaku di Indonesia, tapi sepertinya tidak mungkin, setiap orang pasti akan membawa galon air mineral kemana-mana). Saat mau membayar, Sohyun melarang kami mengeluarkan dompet. Ternyata ia memang berencana untuk membelikan kami makan siang. Kami merasa sungkan dan berusaha tetap membayar, tapi Sohyun tetap bersikeras untuk membayar makan siang kami. Aku dan Rany merasa ini berkat dari Tuhan untuk menghemat, jadi ya kami berterima kasih kepada Sohyun karena sudah membelikan kami makan siang yang lezat. Aku lupa berapa tepatnya harga seporsi naengmyeon, tapi kalau tidak salah harganya 5,000 won (Rp 42.500,00) untuk satu porsinya.
                  Setelah perut puas, hati super senang (karena ditraktir makan), semangat kembali penuh untuk mengitari Hongdae. Kami berputar, terus jalan, belok kanan, belok kiri, naik dan turun jalan curam, melewati banyak toko-toko yang menjual berbagai macam barang khas remaja. Di Hongdae banyak sekali terdapat butik yang menjual pakaian dan aksesoris. Selain itu, banyak sekali klub malam di daerah sini karena anak muda Korea Selatan sebagian besar senang berpesta saat malam. Klubnya pun bermacam-macam tergantung musik yang disukai oleh masing-masing pribadi. Saat kami berputar-putar, kami juga menemukan salah satu spot yang sangat familiar buat aku dan Rany. Kebetulan kami berdua penggemar Running Man dan taman bermain di Hongdae yang kami temukan ini ternyata memang menjadi salah satu spot permainan. Sohyun menjelaskan, memang taman bermain ini banyak digunakan untuk lokasi syuting. Bahkan saat kami datang ke sanapun sedang ada syuting dari KBS. ENtah syuting drama atau video klip, tapi kami hanya dapat melihat dari jauh. Mungkin bagi pecinta Running Man pasti tahu bila melihat kembali episode 59 edisi Hip Hop Special. Di taman bermain Hongdae lah mereka menyelesaikan misi pertama mereka.
                  Puas mengabadikan beberapa gambar, kami melanjutkan perjalanan dan sampailah kami di depan sebuah gerbang besar yang menurut kami cukup megah. Sohyun lalu berkata, “So, this is my university.” Ah, ternyata ini adalah gerbang Hongik University. Kami kagum karena berbeda sekali dengan universitas tempat kami merajut pendidikan. Bukannya menjelek-jelekkan, namun Universitas Hongik menurut kami bersih dan sangat nyaman untuk menjadi tempat belajar. Kami berkata pada Sohyun, “Our university is lot smaller than your university.” dan Sohyun hanya bisa berkata “Ah, really?” Di depan sudah berdiri gerbang besar dan untuk mencapai gedung-gedungnya, kami harus berjalan sekitar dua menit. Kebetulan hari itu masih libur sehingga tidak banyak mahasiswa yang datang ke kampus (sayang sekali kami tidak bisa cuci mata dengan puas). Di hari itu pula terdapat pameran seni di Universitas Hongik dan Sohyun mengajak kami untuk melihat-lihat. Pamerannya terletak di Hongik Museum of Art. Dosen di sana membuat sejumlah patung yang bertemakan manusia. Banyak sekali patung manusia berwarna warni bertebaran di sana sini. Sohyun juga menjelaskan beberapa gedung dimana tiap jurusan berada. Pacarnya juga berkuliah di Universitas Hongik, hanya saja pacar Sohyun mengambil jurusan hukum dan Sohyun sendiri mengambil jurusan Inggris.
                  Waktu terus berputar seakan tidak mau beristirahat sejenak. Kami melanjutkan perjalanan mengelilingi Hongdae dan berhenti di sebuah kafe bernama dal.komm. Kafe ini menjadi spot terakhir pemberhentian kami serta tempat perpisahan kami dengan Sohyun. Ia akan pergi bersama pacarnya setelah ini. Setelah kami memesan minuman, kami naik ke atas (kafe ini memiliki dua lantai) dan diberikan sebuah alat berbentuk segi enam. Bila alat ini bergetar dan lampu merah berkedip-kedip, tandanya pesanan kami sudah siap dan kami harus mengambil pesanan itu (sangat berbeda dengan Indonesia dimana petugas kafe akan meneriakkan nama kita). Tidak lama kemudian pacar Sohyun datang dan tentu kami tidak akan melewatkan hal paling penting, BERFOTO. Sohyun meminta tolong pacarnya (yang namanya kami tidak ingat) untuk mengambil foto kami bertiga. Setelah berfoto dan mengucapkan sampai jumpa, tinggallah aku dan Rany berdua. Kami benar-benar bersyukur bertemu dengan teman sebaik Sohyun. Ia ramah dan mau berusaha untuk Kami tahu perjalanan kami masih berlanjut dan tentunya akan semakin serukarena kami akan mengunjungi Gwanghwamun dan Dongdaemun!


Penulis meminta maaf atas update penulisan yang begitu lama. Meski perjalanan ini sudah dilakukan setahun yang lalu, namun kenangan manisnya masih terus terasa. Penulis terus berusaha untuk menceritakan pengalaman menarik di Seoul ini. Ikuti terus perjalanan kami berdua di Gwanghwamun dan berbelanja di Dongdaemun untuk menutup hari keempat di Korea Selatan. See you guys soon!



By: @xenwoo

Thursday, December 20, 2012

Panik di Hongdae setelah Puas Mencicipi Surga Bermain "Lotte World"


“In every real man a child is hidden that wants to play.” Friedrich Nietzsche

                  



               Seperti ungkapan dari seorang filsuf Jerman di atas, Friedrich Nietzche, di dalam diri setiap manusia pun pasti terdapat sisi anak-anak yang ingin bermain. Tidak dipungkiri setiap kita pasti masih memiliki keinginan untuk kembali ke masa kecil, dimana kita bisa bermain memuaskan hati kita. Bermain memang dapat menyegarkan kembali otak dan diri kita setelah pekerjaan yang penat. Itulah gunanya liburan. Itulah gunanya aku dan Rany memutuskan pergi ke Lotte World.



                  Lotte World adalah salah satu amusement park atau taman bermain yang terkenal di Korea Selatan. Sohyun, teman Korea kami juga pernah memberi tahu bahwa ada 3 taman bermain yang terkenal di Korea Selatan, yang pertama adalah Everland dimana taman bermain ini terletak di Yongin-si, Gyeonggi-do. Taman bermain kedua adalah Seoulland yang berlokasi di Gwacheon-si, Gyeonggi-do. Kami belum pernah menginjakkan kaki ke sini, namun suatu hari kalau bisa berkunjung kembali ke Korea Selatan, tentu saja aku dan Rany ingin sekali pergi menjelajah ke sana. Taman bermain yang ketiga adalah Lotte World yang berada di Songpa-gu, Seoul. Bisa diakses langsung dari Seoul Subway stasiun Jamsil exit 4.

                  Lotte World sendiri terbagi menjadi 2 area, ada area permainan indoor dan permainan outdoor. Kalo buat aku pribadi, tentu permainan outdoor lebih seru dan menyenangkan. Kebanyakan permainan indoor banyak ditujukan untuk anak-anak, sedangkan untuk remaja dan dewasa lebih banyak di outdoor. Bukan berarti di area indoor tidak ada permainan untuk orang dewasa dan begitu pula sebaiknya, tapi permainan untuk remaja dan dewasa menurut aku pribadi lebih banyak terletak di area outdoor. Aku dan Rany untungnya tidak menemukan kesulitan untuk membeli tiket, ditambah sekarang (tampaknya hampir di seluruh tempat di Korea), petugas atau penjual dapat mengaplikasikan tiga bahasa sekaligus, bahasa Inggris, Mandarin, dan Jepang. FYI, kami mendapat kupon diskon dari Young, pemilik Seoulwise Guesthouse, dimana kami tinggal, sebesar 5,000 won. Seharusnya untuk bermain seharian, kami harus membayar sebesar 40,000 won (Rp 340.000,00) tapi karena ada kupos diskon, kami cukup membayar sebesar 35,000 won (Rp 297.500,00). Maka itu, tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk berbincang sesaat dengan pemilik guesthouse.

                  Ketika kami menginjakkan kaki di Lotte World, aku merasa ini memang impian yang menjadi kenyataan. Sebelum berangkat, aku dan Rany sering sekali melihat foto-foto di internet, selalu bermimpi kapan bisa ke tempat ini. Tuhan memang sangat baik, pada tanggal 20 Juni 2012, aku bersyukur bisa menginjakkan kakiku di Lotte World. Persis seperti yang ada di gambar, indah, menawan, menarik hati. Warna biru yang dominan menghiasi taman bermain, udara sejuk, sinar matahari yang masuk, orang-orang yang bermain ice skating. Saat itu masih lumayan pagi sehingga orang yang ada di sana tidak terlalu banyak. Kami yang telah melewati 17 stops dari Hongik University (kalau tidak salah ingat) tentu semakin bersemangat menghabiskan waktu di sini. So, here we go! 


        

                  Aku memulai dengan mencoba permainan bernama Giant Loop. Permainan ini berada dekat di pintu masuk dan aku tertarik ketika melihatnya. Karena Rany tidak suka naik permainan yang ‘aneh-aneh’, jadi aku terpaksa naik wahana ini sendirian. Permainan ini sebenarnya seperti roller coaster kecil, hanya saja penumpang akan berputar-putar 3600 beberapa kali. Jujur saja, kelihatannya menarik, namun ternyata setelah partisipasi langsung, tidak hanya observasi, ternyata permainan ini tidak semenarik yang aku harapkan (sorry). Oh ya, dua pelajaran berharga yang aku dapatkan di sana, tidak ada orang yang berusaha menyerobot, sepanjang apapun antriannya, dan yang kedua, petugas selalu mengecek keadaan mesin setiap satu sesi permainan berakhir. Mungkin hal ini memakan waktu lebih namun, safety comes first.



                  Setelah (aku) selesai mencoba bermain Giant Loop, kami baru sadar belum memiliki peta dan bingung mau memulai dari mana. Jadi, kami mencari peta lalu memutuskan untuk berkeliling di wahan indoor dulu baru melanjutkan di outdoor. Tentu saja setiap menemukan spot cantik, kami tidak lupa berfoto manis untuk dijadikan kenang-kenangan. 




Di dalam Lotte World, tentu saja banyak stan makanan dan minuman di setiap sudut. Dan salah satu stan berhasil menggoda kami, kami mencoba makanan semacam gorengan yang dapat diberi bumbu. Namanya sudah kami lupakan, namun rasa masih terkenang dalam hati. Aku memesan semacam gorengan seperti bakso yang di dalamnya terdapat tteokpokkinya. Menurutku enak, namun, yang dibeli Rany tampaknya lebih lezat. Kami mengeluarkan uang sebesar 2,000 won untuk setiap tusuknya. Kami menghabiskan dengan cepat karena kami harus mengantri untuk French Rollercoaster!


indoor area Lotte World

                  Sebelum berangkat (lagi-lagi), aku sudah mengecek permainan ini di Lotte World, ditambah roller coaster ini juga menjadi bintang saat Running Man episode 9, berkunjung ke Lotte World. “Roller coaster ini pasti seru,” pikirku waktu itu. Dan memang wajib rasanya untuk mencoba wahana ini bila mengunjungi Lotte World. Kami cukup kaget ketika sedang antri untuk naik wahana ini karena ada sepasang kekasih yang kissing di depan umum saat mengantri. Tampaknya budaya di sana memang sudah banyak berubah. Setelah naik wahana ini, ternyata andrenalin kami semakin terpacu untuk menejelajahi wahana lainnya.

                  Tiba saatnya berpetualang di area outdoor, tetapi sebelum menaiki wahana lainnya, churros panjang seharga 3,000 won lagi-lagi berhasil mencuri hati. Akhirnya kami membeli churros itu dan makan bersama. Churrosnya lumayan panjang, jadi karena takut kenyang di saat makan siang, kami memutuskan untuk makan separoan saja. Setelah selesai, kami mencoba permainan yang kami lupakan namanya karena menorehkan pengalaman pahit. Wahana ini berbentuk seperti pohon dan ada banyak kursi seperti ayunan. Persis seperti permainan di Dufan, tapi ini lebih bagus dan menarik (maaf Dufan). Saat berputar pertama-tama masih tidak ada masalah, namun semakin lama, kepala semakin pusing dan menjadi mual. Setelah turun dari wahana itu, aku langsung mencari toilet karena rasanya ingin muntah. Untung saja tidak jadi muntah dan setelah diam sejenak, semangat kembali pulih.

                  Ternyata hari sudah siang dan memang saatnya kami untuk menyantap makan siang. Aku dan Rany memilih makan di restoran Korea. Kami memesan satu menu pork rice bowl. Lumayan kenyang dan tenaga kami kembali terisi. Ini saatnya petualangan dilanjutkan. Salah satu wahana yang menjadi favorit adalah Atlantis Adventure. Dimana kami mengendarai semacam kereta (seperti di roller coaster) dan diajak berkeliling seperti memasuki dunia Atlantis. Bagi yang pernah naik wahana Niagara di Dufan, wahana ini mirip seperti Niagara, namun di wahana ini ada sabuk pengamannya dan lebih seru. sayang, terasa begitu cepat memang kalau wahananya mengasikkan.

                  Mungkin karena terlalu asik berjalan, Rany tidak menyadari bahwa kakinya kesakitan. Setelah benar-benar sakit, Rany menyadari dia seharusnya tidak menggunakan sepatu. Ini akibat perjalanan kami ke Myeongdong dan Namsan kemarin. Kuku kelingking kaki Rany memang terluka dan seharusnya dia tidak menggunakan sepatu. Terpaksa, kami kesana kemari mencari gerai yang menjual sandal. Untungnya kami menemukan di area indoor dan Rany mencoba beberapa sandal. Walau harganya lumayan mahal, namun demi menyelamatkan kaki dan sisa hari kami di Lotte World, Rany membeli sandal berwarna putih tersebut. Memang betul-betul sandal penyelamat karena sandalnya terlihat pas dan begitu nyaman membawa Rany mengitari Lotte World.

                  Kami melanjutkan dengan naik Bungee Drop, dan tentu saja tidak ketinggalan aku mencoba Gyro Drop (lagi-lagi Rany tidak mau ikut karena terlihat seram). One word : AWESOME! Jika kalian naik wahan ini, kalian akan dibawa setinggi 70 meter dan dapat melihat pemandangan indah di sekitar Lotte World. Belum selesai menikmati, kalian akan dilepas dengan kecepatan 100 km/jam. Setelah sampai di daratan, telapak kakiku langusng nyeri semua. Meski jantung serasa ikut tertarik ke bawah, tapi aku pengen banget naik wahana ini sekali lagi.



                  Setelah dirasa puas mengelilingi Lotte World, kami tidak akan melewatkan yang satu ini, Lotte World Star Avenue! Di sini terdapat kostum, CD, tanda tangan, tayangan iklan atau konser atau acara, serta properti yang pernah digunakan oleh sang artis. Waktu aku dan Rany ke sana sih kami melihat pajangan Rain, 2PM, Song Seung Heon, jang Geun Suk, Kim Hyun Joong, Choi Ji Woo, Hyun Bin, serta yang under construction (prediksi kami) itu punyanya SUPER JUNIOR! Sayang banget ya? Nah, di dalam Lotte World Star Avenue itu ada lagi area dimana kita bisa main kuis, foto bareng artis dengan teknologi semacam green screen, dan lain-lain. Memang lebih lengkap di dalam sana, namun kalian harus merogoh kocek sebesar 10,000 won. Aku sama Rany memutuskan untuk tidak mengeluarkan uang di sana karena menurut kami sudah cukup melihat-lihat di area luarnya saja.






                  Saatnya pulang dan beristirahat! Perjalanan terasa panjang dan lama karena kami pulang saat rush hour. Orang-orang pulang kerja dan subway menjadi penuh. Akhirnya meski kaki sudah lelah, kami harus tetap berdiri terus karena kereta tidak pernah sepi. Hati lega perasaan gembira ketika sudah mencapai kamar kami. Setelah istirahat sebentar dan mandi, kami melanjutkan perjalanan menuju Hongdae. Malam itu kami mengitari Hongdae sisi lain dan mencoba sebuah makanan ‘aneh’. Dari dulu aku memang selalu ingin mencoba makanan ini, lebih-lebih karena penasaran. Aku mengungkapkan hal ini pada Rany.

“Ran, coba makan soondae yuk!”

“Hah? Apa itu Xen? Makanan yang mana dan isinya apa aja?”

“Hmm.. itu dari usus babi, diisi mie semacam soun gitu, mirip bihun, sama darah babi.”

“……. kamu serius?”

krik…krik…krik…



                  Sayang kan kalau ngga mencoba makanan aneh waktu di Korea Selatan? Akhirnya, Rany mau juga mencoba makanan ‘aneh’ itu. Kalau Rany sekali makan langung ngga mau nambah lagi, beda sama aku. Memang terasa aneh di gigitan pertama, tapi entah mengapa lama-lama terasa lumayan gurih dan enak. Waktu itu kita makan soondae sama semacam garam gitu warna oranye muda. Tidak ketinggalan kita juga mencicipi Odeng (fish cake) serta minum sup dari gelas. Kami menikmati ini sambil berdiri di pinggir jalan karena namanya saja Korean Street Snack, yang jualan kayaknya pasangan suami istri Ahjumma dan Ahjussi. Saat itu perut baik-baik saja dan masih bisa dimasukkan makanan lain.

                  Kami melanjutkan perjalanan dan menemukan restoran daging yang menawan hati. Restoran itu tampak cukup ramai dan hampir penuh. Kami memutuskan makan di sana dan ternyata oh ternyata! Beberapa artis ternama pernah makan di sana. Sadarnya sih pas mau keluar karena kelihatan tanda tangan yang dilaminating dan dipajang di dinding. Member Big Bang dan 2NE1 ternyata pernah makan pula di sana. Memang, enak banget dagingnya dan side dishnya menurut kami cukup banyak. Masing-masing dari kami membayar 13,000 won (Rp 110.500,00) untuk makan malam hari itu.



                  Saat keluar dari restoran itu dan mau mengitari Hongdae exit 9, tiba-tiba perut sakit dan mulai terasa mulesnya. Waktu mau menyeberang, aku sudah mengutarakan hal ini sama Rany dan dia agak was-was. Tapi aku bilang, aku baik-baik saja. Nanti aja bisa ditahan sampai guesthouse. Ternyata oh ternyata sekali lagi, kata-kata yang keluar, otak, dan perut tidak sinkron. Sampai di exit 9, perut mulai bergejolak tanda tak mampu menahan. Aku mulai panik, Rany walau kelihatan tenang mulai ikutan panik. Masalahnya kita ngga tahu bisa menemukan toilet dimana. Masalah kedua, waktu sudah menunjukkan jam 10 malam KST dimana toko-toko sudah mulai berhenti beroperasi.

                  Akhirnya kita coba masuk ke Dunkin Donuts dan ternyata toilet sudah tutup. Pilihan lain, Burger King, karena biasanya di gerai makanan cepat saji ada toiletnya. Rany memesan es krim seharga 500 won dan aku langsung naik mencari toilet. Memang ada toiletnya, tapi sama seperti Dunkin Donuts, toilet tutup jam 10 malam. Akhirnya aku harus turun kembali dan mencari toilet lainnya. Panik. Perut sakit. Pusing. Keringat bercucuran. Hampir putus asa, kami berlari ke seorang petugas dan menanyakan toilet. Ternyata ada toilet di sebuah gedung yang dapat digunakan! Puji Tuhan!  Akhirnya aku bisa menunaikan ‘tuntutan perut’ dan pulang dengan perut enteng.

“Kamu sih, makan soondae kebanyakan. Udah tahu aneh begitu, jadi diare kan?”

Dan aku cuma bisa tertawa. Setidaknya, kejadian mencari toilet saat diare di Korea Selatan dapat menjadi kenangan indah. Lebih baik mencoba daripada tidak mencoba sama sekali kan? Kami menutup hari itu dengan berjalan santai kembali ke guesthouse. Kami tutup hari itu dengan doa dan tidur nyenyak sebelum petualangan seru lainnya di keesokan hari.

 

 

nantikan kisah lanjutan perjalanan kami di hari keempat, berkeliling Hongdae bersama Sohyun, dan mencapai Gwanghwamun serta Dongdaemun. Perjalanan kami belum berakhir!





By: @xenwoo

Friday, November 2, 2012

Korbankan Kaki Demi Myeongdong hingga Namsan Seoul Tower


Aku masih tidak percaya ketika bangun keesokan harinya. Kami berdua sudah di Seoul! Fyi, kami tinggal di sebuah guesthouse bernama Seoulwise Guesthouse, termasuk kategori bagus kok untuk 2 orang dan yang membuat kami tambah senang selain tempatnya bersih dan nyaman, Young, pemilik guesthouse memberi kami kupon diskon untuk masuk ke Everland dan Lotte World (keduanya adalah amusement park terkenal di Korea Selatan). So, setelah mengembalikan energi selama beberapa jam (kami baru tidur jam 2.00 KST), kami langsung siap-siap untuk berangkat.
                  Sejatinya, aku dan Rany telah mengatur itinerary sejak dari Surabaya. Sudah kepo (repot sendiri) ngurus itinerary bahkan dari jauh-jauh hari karena terlalu excitednya. Di hari kedua ini, kami berencana mengunjungi Myeongdong dan Namsan Tower, karena kami ngerasa rutenya sejalan. Kita mulai petualangan kita dengan berjalan kaki, keluar dari guesthouse dan menuju ke subway station. Guesthouse kami berada di daerah Hongdae (Hongik University) exit 2. Hongdae, singkatan dari Hongik Daehakyo (Daehakyo : university) sendiri merupakan daerah yang terkenal dengan youthnya, karena di sinilah pusatnya anak muda, banyak sekali klub dan tempat hiburan untuk anak muda. Secara total, Hongdae memiliki 9 exit dan kebetulan kita di exit 2.
                  Pemandangan gedung bertingkat, jalanan bersih dan rapi, orang-orang bersepeda, dan cewek-cewek cantik lalu lalang mungkin jarang kita dapat di Indonesia, tapi begitulah di Seoul. Semuanya tertib dan teratur, berjualan pun meski ada PKL, itupun hanya satu atau dua saja. Mereka berjualan pun tidak sampai menyebabkan kemacetan. Sesampainya di subway station, kami harus menemukan cara ke Myeongdong. Jadi karena tanpa tour guide, kita harus mencari sendiri. Percayalah, kalau kalian mau pergi ke Seoul tanpa tour guide, kalian bisa! Tulisan di sana sudah dilengkapi dengan bahasa inggris, tidak semua tulisan hanya hangul saja. Di dalam subway pun masih terdapat toko-toko, ada yang berjualan makanan dan minuman, baju, serta kios-kios kecil lainnya. Kami menunggu kereta dengan tertib. Yang bikin aku kaget, ada juga cewe dandan cantik banget pake hotpant, blazer, kaos, dan high heels. Mana high heelsnya tinggi banget! Mungkin dia sudah terbiasa ya naik subway dengan heels setinggi itu (selama di kereta dia berdiri terus dan tidak berpegangan).
                  Sesampainya di Myeongdong, keluar dari station, mata kami langsung berbinar-binar. Di kanan kiri sepanjang kami melihat, semuanya toko kosmetik dan tentu saja harganya jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia. Jantung langsung berdebar dengan kencang dan tidak sabar untuk menjelajahi Myeongdong. Beberapa produk kosmetik bahkan tidak ada di Indonesia, so, ini kesempatan kami untuk berkeliling sepuasnya. Mulai dari Nature Republic, Nail Olive, It’s Skin, Skin 79, Holika Holika, The Face Shop, Skin Food, Etude House, Tony Moly, Missha, Laneige, Talent Cosmetic, Beaute, dan lain-lain. Harganya pun beragam, namun setiap toko rata-rata sama. Kami mendapatkan sabun cuci muka di Etude House maupun The Face Shop dan Holika Holika seharga 3,000 won atau Rp 25.000,00 saja. Sedangkan di Indonesia, sabun cuci muka yang sama bisa mencapai Rp 75.000,00. Eyeliner pensil Nature Republic bisa dibawa pulang dengan mengganti sebesar 2,000 won atau Rp 17.000,00 saja.

                  
Tidak hanya kosmetik yang merajalela di Seoul, namun secara hallyu lagi booming-boomingnya, hampir di setiap sudut jalan kita dapat melihat gerobak ataupun toko yang menjual berbagai aksesoris K-Pop. Toko-toko yang memutar lagu K-Pop juga tidak jarang. Kami jadi merasa seperti ada di rumah. Aku mendapat tugas (baca : titipan) dari teman untuk membeli semua CD dan DVD Girls Generation. Dia adalah fans Girls Generation dan dia tahu kalau beli di Korea Selatan langsung, harganya pasti jatuh lebih murah. So, misi kita adalah mencari CD dan DVD Girls Generation yang termurah. Kita masuk ke Myeongdong Underground Station karena menurut info dari buku, di situlah yang paling murah. Sempat masuk ke salah satu toko, Rany membeli album Miss A ‘Touch’ seharga 15,000 won (Rp 127.500,00). Namun ketika masuk lebih dalam lagi, ada sebuah toko yang menjual CD dan DVD K-Pop dengan harga yang lebih murah! Album Miss A ‘Touch’ yangs ama dijual hanya dengan 11,000 won (Rp 93.500,00). Akhirnya aku membeli semua CD dan DVD Girls Generation yang ada. Tidak lupa juga membeli beberapa aksesoris lainnya (mumpung murah).

                  Sebagai pecinta K-Pop, kami tidak kelewatan mengunjungi Everysing yang satu atap dengan SPAO. Everysing yang dimiliki oleh SM Town adalah sebuah toko yang menjual CD dan DVD K-Pop khususnya artis-artis di bawah naungan SM Town, namun ternyata ketika kami sampai di sana, banyak juga CD dan DVD artis-artis K-Pop lainnya yang tidak berlabel SM Town. Namun harganya jauh lebih mahal di Everysing. Selain menjual CD dan DVD, bagi fans setia artis-artis SM Town juga dapat membeli aksesoris asli seperti mug, pigura, pictorial book, cokelat, bahkan foto stiker bersama idola (artisnya sih tidak ada, tapi kita bisa berfoto seakan-akan bersama sang artis idola). Sayang sekali waktu kita mau foto mesinnya rusak semua. Mungkin tidak berjodoh ya. *mengusap air mata* Tidak ketinggalan ruangan kecil untuk berkaraoke ria dengan lagu-lagu K-Pop. Namun, tidak lama di sana kami segera keluar mengingat masih banyak tempat yang harus kami kunjungi.
                  Myeongdong benar-benar luas dan tentu saja surga belanja bagi kaum shopaholic. Kami tidak belanja banyak hari itu (takut uang habis di hari pertama karena kalap). Kami sempat masuk ke Forever 21 di Myeongdong dan Rany keluar dengan membawa blazer seharga 25,000 won (Rp 212.5000,00). Tidak boleh terlewatkan, aku dan Rany juga mencoba es krim parfait setinggi 32 cm. Waktu itu kami hanya membacanya di buku, namun tidak menyangka kita bisa menikmati es krim itu. Es krimnya memang tinggi banget, kita bisa menggabungkan 2 rasa yang kita mau dan bisa didapatkan dengan harga 2,000 won saja atau Rp 17.000,00. Di Indonesia saja satu cup es krim kecil bisa mencapai Rp 60.000,00, meski rasa enaknya hampir sama. Kami memesan vanilla-green tea dan karena takut tidak habis, kami memesan satu es krim untuk berdua. Untung tidak pesan dua, makan satu gitu saja sudah kenyang sekali.

                  Perjalanan terus berlanjut, matahari semakin terik, peluh sudah mengalir, kaki sudah hampir tidak bisa dirasakan lagi, namun kami tahu masih ada destinasi berikutnya. Aku dan Rany sempat duduk-duduk sejenak di pinggir jalan seraya mengistirahatkan kaki. Anehnya, tempat duduk di pinggir jalan untuk di Seoul menurutku termasuk minim, bila dibandingkan dengan Singapura. Akhirnya kami hanya duduk-duduk di pinggir jalan. Kami berdua memakai flat shoes, dan mungkin itu merupakan salah satu kesalahan kami. Lebih dari 95% penduduk di Seoul yang kami temui menggunakan sepatu olahraga. Meskipun bajunya modis-modis, namun sepatu yang mereka gunakan kebanyakan sport shoes. Tidak heran betis mereka termasuk besar karena sehari-hari, untuk pergi ke suatu tempat mereka menempuhnya dengan berjalan kaki. Maklum kalau kami berdua capek setengah mati berjalan segitu jauhnya, di Indonesia terbiasanya hanya gas dan rem mobil.
                  Hampir putus asa, namun kami tahu bahwa perjalanan ke Namsan Seoul Tower masih menunggu, jadi kami putuskan untuk tetap melangkah, setelah dirasa kaki cukup kuat untuk berjalan lagi. Kami harus mencari Daehan Cinema, di exit Myeongdong yang lain, lalu dari sana, kami harus naik shuttle bus untuk mencapai Namsan Seoul Tower. Aku pribadi senang dengan daerah Namsan karena lebih ‘hijau’, banyak pepohonan dan taman. Namsan Tower sendiri berada di daerah pegunungan Namsan, dimana banyak manula yang melakukan jogging di sana (hebat!). Setelah sampai di pemberhentian Namsan Seoul Tower, aku dan Rany mencari jalan masuknya. Towernya sih kelihatan, tapi jalan masuknya lewat mana nih? Akhirnya kita melihat tanda masuk dan mengikuti segerombolan turis dari China. Tempatnya memang bagus banget, tapi kaki hampir tidak mau kompromi. Saat bulan Juni kemarin kami ke sana, di Seoul ternyata lagi transisi dari musim semi ke musim panas, jadi angin masih bertiup dengan kencang pula. Tidak jarang mata kami kelilipan. Namun, kami tetap menapaki jalan panjang menuju Namsan Seoul Tower tersebut.

                  Ternyata benar, meski kaki sudah semakin loyo, namun pemandangan dari atas benar-benar superb! Kota Seoul dari atas benar-benar indah, komposisi warnanya pas sekali. Dominasi warna biru dan hijau ditemani warna putih, abu-abu, dan cokelat yang pas menemani di sekitarnya. Setelah mengistirahatkan kaki sejenak dan melihat sekeliling, kami langsung lanjut foto-foto dan mengitari Namsan Seoul Tower. Kalau kalian tahu love lock, maka waktu kami ke sana, entah sudah ada ratusan ribu gembok yang dipasang di deck Namsan Seoul Tower. Tradisi tersebut ternyata sudah dimulai sejak tahun 1990an dan pasangan yang memasang gembok di sana percaya bahwa hubungannya dengan kekasih akan bertahan hingga maut memisahkan (ehciye..).
view dari Namsan Tower

love lock.


                  Selain mengitari Namsan Seoul Tower, kami juga tidak melewatkan masuk ke Teddy Bear Museum. Selain di Namsan Seoul Tower, Teddy Bear Museum juga terdapat di Pulau Jeju. Namun sayangnya, Jeju tidak masuk dalam itinerary kami. Untuk orang dewasa tinggal membayar sebesar 8,000 won (Rp 65.000,00) untuk masuk ke Teddy Bear Museum. Sebenarnya ada tiket terusan juga ke Observatory Deck, tapi kita memutuskan untuk tidak naik ke sana (tiket Observatory Deck sebesar 9,000 won, kalau mengambil tiket terusan mendapat diskon menjadi 16,000 won).

                  Ketika masuk ke Teddy Bear Museum, tentu saja aku senang sekali. Melihat boneka beruang yang bisa bergerak sendiri, miniatur yang begitu detail dan kompleks, serta penjelasan yang lengkap (meski tidak semua dibaca). Jadi, museum lucu ini dibagi menjadi dua, untuk hall pertama berisi sejarah Korea Selatan dari dinasti awal, yaitu dinasti Joseon, hingga Korea Selatan pada zaman dahulu. Banyak miniatur-miniatur beruang yang menceritakan kehidupan masyarakat Korea Selatan di zaman dahulu. Selesai menikmati hall pertama, kita bisa langsung lanjut ke hall kedua dengan menunjukkan tiket yang sama.
                  Di hall kedua, dimulailah kehidupan Korea Selatan pada tahun-tahun awal, dimana Korea Selatan memasuki era modern. Mulai banyak gereja, ada konser, pertunjukkan hip hop, suasanan di kebun binatang, pernikahan, bahkan miniatur daerah elit di Korea Selatan dengan toko-toko brand ternama seperti Hermes, Louis Vuitton, Giorgio Armani, dan lain-lain. Hampir mendekati pintu keluar, terdapat boneka beruang raksasa dari drama Korea terkenal Goong (Yoon Eun Hye dan Joo Ji Hoon). Ada juga beberapa atribut untuk drama ini seperti, pensil yang digunakan oleh sang sutradara, lembaran skrip drama, topi yang digunakan saat syuting, serta boneka beruang lengkap dengan seragam pemeran Goong.
                  Kami melangkah dengan kaki dan hati yang berat. Kaki berat karena lelah, hati berat karena harus meninggalkan tempat yang mengesankan. Kami harus kembali ke guesthouse untuk mengitari Hongdae exit 9. Di tengah perjalanan pulang kami sempat membeli kimbap dan tteokpokki. Kimbap (nasi gulung mirip sushi yang isinya sayuran dan acar) di pinggir jalan bisa didapatkan seharga 2,000 won (Rp 17.000,00) dan tteokpokki (kue beras dengan bumbu pedas manis dan potongan fish cake) juga dapat dinikmati dengan harga yang sama. Menurut aku dan Rany, tteokpokki di Korea Selatan memang lebih enak dibandingkan yang ada di Indonesia (secara negara asal). Malamnya, kami mengitari Hongdae untuk memperdalam ‘ilmu arahan’ ketika jalan-jalan di hari-hari berikutnya. Malamnya, kami kembali hampir tengah malam dan tidur membawa rasa gembira serta syukur.

Nantikan kisah membeli sandal jepit di taman bermain, naik wahana seru, foto bersama (poster) artis K-Pop, mencoba soondae, hingga kesana kemari mencari toilet karena diare! Annyeong.



By: @xenwoo
www.xena168.blogspot.com